Perkamen yang direndam lumpur, nyaris tak tersambung. Coretan samar menunjukkan semacam konstruksi menyerupai senjata.
Satu baris mencolok:
"Pertama terkubur... sebuah pulau di dalam pulau, di mana tulang-tulang tak lagi bersuara."
Di bawahnya, sebuah catatan tak selesai tentang potongan ketiga berakhir di tinta yang berantakan, seolah sisanya disobek di tengah pemikiran.
